Posted by : gudang Doa Sabtu, 19 Januari 2013

Shalat berjamaah 

Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan secara bersama-sama. Orang yang memimpin shalat, yang berdiri paling depan, disebut imam. Sedangkan yang ada di belakangnya, yang dipimpin, disebut makmum.

Shalat berjamaah paling sedikit dilakukan oleh 2 orang. Yang satu bertindak sebagai imam, dan yang satu lagi sebagai makmum. Sedangkan hukumnya adalah sunat muakkad. (Pendapat lain mengatakan fardhu kifayah).

Landasan Qur'an dan Hadits tentang Sholat Berjamaah

Berikut adalah landasan hukum yang terdapat dalam Al Qur'an maupun Hadits mengenai salat berjama'ah:
  • Dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman: "Dan apabila kamu berada bersama mereka lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) bersamamu dan menyandang senjata,..." (QS. 4:102).
  • Rasulullah SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama'ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA).
  • Dari Ibnu Abbas RA berkata: "Saya menginap di rumah bibiku Maimunah (isteri Rasulullah SAW). Nabi SAW bangun untuk salat malam maka aku bangun untuk salat bersama beliau. Aku berdiri di sisi kirinya dan dipeganglah kepalaku dan digeser posisiku ke sebelah kanan beliau." (HR. Jama'ah, hadits shahih).
Keutamaan Sholat Berjamaah

Adapun keutamaan salat berjama'ah dapat diuraikan sebagai berikut:
  • Berjama'ah lebih utama dari pada salat sendirian. Rasulullah SAW bersabda: "Salat berjama'ah itu lebih utama dari pada salat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA)
  • Dari setiap langkahnya diangkat kedudukannya satu derajat dan dihapuskan baginya satu dosa serta senantiasa dido'akan oleh para malaikat. Rasulullah SAW bersabda: "Salat seseorang dengan berjama'ah itu melebihi salatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila seseorang berwudhu' dan menyempurnakan wudhu'nya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan semata-mata untuk salat, maka setiap kali ia melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuslah satu dosa. Dan apabila dia mengerjakan salat, maka para Malaikat selalu memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada ditempat salat selagi belum berhadats, mereka memohon: "Ya Allah limpahkanlah keselamatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat untuknya.' Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan salat semenjak menantikan tiba waktu salat." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Huraira RA, dari terjemahan lafadz Bukhari).
  • Terbebas dari pengaruh/penguasaan setan. Rasulullah SAW bersabda: "Tiada tiga orangpun di dalam sebuah desa atau lembah yang tidak diadakan di sana salat berjama'ah, melainkan nyatalah bahwa mereka telah dipengaruhi oleh setan. Karena itu hendaklah kamu sekalian membiasakan salat berjama'ah sebab serigala itu hanya menerkam kambing yang terpencil dari kawanannya." (HR. Abu Daud dengan isnad hasan dari Abu Darda' RA).
  • Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda: "Berikanlah khabar gembira orang-orang yang rajin berjalan ke masjid dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat." (HR. Abu Daud, Turmudzi dan Hakim).
  • Mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang salat Isya dengan berjama'ah maka seakan-akan ia mengerjakan salat setengah malam, dan barangsiapa yang mengerjakan salat shubuh berjama'ah maka seolah-olah ia mengerjakan salat semalam penuh. (HR. Muslim dan Turmudzi dari Utsman RA).
  • Sarana penyatuan hati dan fisik, saling mengenal dan saling mendukung satu sama lain. Rasulullah SAW terbiasa menghadap ke ma'mum begitu selesai salat dan menanyakan mereka-mereka yang tidak hadir dalam salat berjama'ah, para sahabat juga terbiasa untuk sekedar berbicara setelah selesai salat sebelum pulang kerumah. Dari Jabir bin Sumrah RA berkata: "Rasulullah SAW baru berdiri meninggalkan tempat salatnya diwaktu shubuh ketika matahari telah terbit. Apabila matahari sudah terbit, barulah beliau berdiri untuk pulang. Sementara itu di dalam masjid orang-orang membincangkan peristiwa-peristiwa yang mereka kerjakan di masa jahiliyah. Kadang-kadang mereka tertawa bersama dan Nabi SAW pun ikut tersenyum." (HR. Muslim).
  • Membiasakan kehidupan yang teratur dan disiplin. Pembiasaan ini dilatih dengan mematuhi tata tertib hubungan antara imam dan ma'mum, misalnya tidak boleh menyamai apalagi mendahului gerakan imam menjaga kesempurnaan shaf-shaf salat. Rasulullah SAW bersabda: "Imam itu diadakan agar diikuti, maka jangan sekali-kali kamu menyalahinya! Jika ia takbir maka takbirlah kalian, jika ia ruku' maka ruku'lah kalian, jika ia mengucapkan 'sami'alLaahu liman hamidah' katakanlah 'Allahumma rabbana lakal Hamdu', Jika ia sujud maka sujud pulalah kalian. Bahkan apabila ia salat sambil duduk, salatlah kalian sambil duduk pula!" (HR. Bukhori dan Muslim, shahih).
  • Dari Barra' bin Azib berkata: "Kami salat bersama Nabi SAW. Maka diwaktu beliau membaca 'sami'alLaahu liman hamidah' tidak seorang pun dari kami yang berani membungkukkan punggungnya sebelum Nabi SAW meletakkan dahinya ke lantai. (Jama'ah)
  • Merupakan pantulan kebaikan dan ketaqwaan. Allah SWT berfiman: "Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan salat." (QS. 9:18).

Shalat-shalat yang disunatkan berjamaah

a. Shalat Fardhu (tapi jika untuk kaum Muslim hukumnya wajib)

b. Shalat Jenazah

c. Shalat Idul Fitri

d. Shalat Idul Adha

e. Shalat Tarawih dan Witir pada bulan Ramadhan

f. Shalat Istisqa (Meminta Hujan)

g. Shalat Kusuf (Gerhana Matahari)

h. Shalat Khusuf (Gerhana Bulan)

Posisi makmum dalam shalat berjamaah.

Dalam shalat berjama'ah, posisi makmum diatur seperti berikut:

a. Jika makmum hanya sendiri, maka posisinya di sebelah kanan imam dan agak mundur sedikit (supaya berbeda dengan posisi imam). Jika ada orang lain yang datang, maka sebaiknya ia mengambil tempat di sebelah kiri imam.

Jika ia telah mulai takbir, maka imam maju ke depan, atau kedua makmum itu mundur ke belakang, dengan gerakan (langkah) yang ringan.

b. Jika makmum terdiri atas beberapa shaf (barisan) dan meliputi laki-laki dewasa, anak-anak dan wanita, maka posisinya adalah di belakang imam shaf laki-laki dewasa, di belakang laki-laki dewasa ditempatkan anak-anak, dan di belakang anak-anak ditempatkan kaum wanita. Jadi kaum wanita ditempatkan paling belakang.

Dalam shalat berjamaah ini, shaf (barisan) hendaklah diluruskan dan dirapatkan. Jangan ada celah-celah atau renggang, karena setan akan masuk di antara celah-celah itu. Hal ini semua sangat berpengaruh terhadap kesempurnaan shalat berjamaah yang dilakukan.

Adab bagi imam sholat

a. Dalam shalat berjamaah imam hendaknya meringankan bacaan (jangan membaca surat yang terlalu panjang), karena mungkin saja di antara makmumnya itu ada anak-anak, orang yang sudah tua renta, orang yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan.

b. Imam hendaknya jangan bertakbiratul ihram sebelum muadzin selesai mengumandangkan iqamah.

c. Imam hendaknya jangan bertakbiratul ihram sebelum makmum merapatkan dan meluruskan shaf (barisan).

d. Pada saat takbir, baik takbiratul ihram maupun takbir intiqal, hendaknya imam mengeraskan suaranya.

e. Imam hendaknya mengeraskan bacaan surat Al-Fatihah dan surat-surat lainnya pada shalat subuh, dua rakaat pertama dari shalat maghrib dan isya, shalat Jum'at, serta shalat sunat tertentu yang dilakukan dengan berjamaah, di antaranya shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha, shalat tarawih, witir pada malam Ramadhan, dll.

f. Setelah membaca Al-Fatihah, sebelum membaca surat-surat lainnya, sebaiknya imam diam sejenak guna memberi kesempatan kepada makmum membaca surat Al-Fatihah, sehingga pada saat imam membaca surat, mereka dapat mendengarkannya.

g. Setelah salam, hendaknya imam diam sejenak, lalu menghadapkan wajahnya kepada makmum yang adadi belakangnya. Jika di antara makmum ada kaum wanita, maka imam tak usah menghadapkan wajahnya kepada makmum.

Syarat sah mengikuti imam

a. Makmum wajib berniat mengikut imam. Jadi dalam niat shalatnya ditambah kata "MA'MUUMAN" ('Mengikut Imam'). Sedangkan bagi imam, niat 'menjadi imam' adalah sunat. Dengan demikian, jika imam tidak berniat 'menjadi imam' shalatnya sah, tetapi ia tidak mendapat pahala dan keutamaan shalat berjamaah. Jadi sebaiknya imam pun melakukan niat, agar shalatnya itu tidak dinilai shalat munfarid (sendirian).

b. Makmum harus mengikuti gerakan imam dan gerakannya itu tidak mendahului gerakan imam. Misalnya setelah imam selesai takbiratul ihram, makmum baru memulai takbiratul ihram. Begitu pula gerakan-gerakan shalat lainnya.

c. Makmum mengetahui gerakan-gerakan imam, baik melihatnya secara langsung, melalui orang yang ada di sebelahnya, atau barisan yang ada di depannya, maupun mendengar suara imam atau mubalignya (orang yang menyambung suara imam pada setiap pergantian rukun supaya terdengar oleh makmum yang ada di barisan belakang).

d. Posisi makmum (tumitnya) tidak boleh lebih maju daripada posisi (tumit) imam.

e. Makmum dan imam harus berada dalam satu tempat

f. Shalat makmum dan imam harus sama, yaitu sama-sama mengerjakan shalat zhuhur, ashar dan lain-lain.

g. Jika makmum shalat di luar mesjid sedangkan imamnya di dalam mesjid, maka harus mengikuti ketentuan berikut:

- Jarak antara makmum dan imam tidak lebih dari 300 hasta (± 144 m). Jarak ini dimulai dari akhir mesjid.

- Makmum dapat mengetahui shalat imam.

- Antara imam dan makmum tidak ada pemisah

Yang boleh menjadi imam sholat

Orang-orang yang diperbolehkan menjadi imam adalah:

a. Qari (orang yang bacaan Al Qur'annya fasih, baik tajwid maupun makharijul hurufnya diucapkan dengan tepat).

b. Laki-laki, jika makmumnya terdiri atas laki-laki saja, atau perempuan saja, atau banci saja, atau mereka bersama-sama.

c. Perempuan, jika makmumnya terdiri atas perempuan saja.

d. Banci, jika makmumnya terdiri atas perempuan saja.

Khusus untuk keterangan point d diatas ini (Banci) adalah Orang yang mempunyai kelamin 2 dari bawaan lahir, walaupun dia memilih menjadi wanita karena didalam orang tersebut lebih banyak sifat kewanitaannya, maka dia hanya boleh meng imami kaum wanita saja, tapi dengan syarat point sebelumnya sangat diperhatikan.

Yang tidak boleh menjadi imam sholat

Orang-orang yang tidak boleh menjadi imam adalah :

a. Orang yang ummi (orang yang kurang baik bacaan Al Qur'annya), sedangkan makmumnya qari.

b. Banci, jika makmumnya terdiri atas laki-laki saja, atau banci saja, atau mereka bersama-sama.

c. Perempuan, jika makmumnya terdiri atas laki-laki saja, atau banci saja, atau mereka bersama-sama.

Makmum yang masbuk

Masbuk adalah makmum yang datang terlambat dalam shalat berjamaah, baik satu rakaat maupun lebih. Bagi makmum yang masbuk ini ada ketentuan khusus yang harus diperhatikan, yaitu :

a. Jika pada saat ia tiba, imam sedang ruku, dan ia masih sempat ruku bersama imam, maka berarti ia sudah mendapat rakaat tersebut, walaupun belum sempat membaca Al-Fatihah.

b. Jika ia tidak sempat ruku bersama imam, atau ia memulai shalat setelah imam ruku, maka ia harus mengulangi rakaat tersebut, karena belum sempurna. Jadi setelah imam memberi salamke kanan dan ke kiri, ia harus bangun untuk menyempurnakan rakaat yang masih kurang tadi.

c. Jika pada saat ia tiba imam sedang tasyahud akhir, maka ia, setelah takbiratul ihram, langsung duduk untuk ikut ta-syahud bersama imam. Jika imam telah memberi salam ke kanan dan ke kiri, maka ia langsung berdiri untuk menyempurnakan shalatnya sesuai dengan jumlah rakaat dari shalat yang sedang ia kerjakan, karena rakaat yang tadi ia ikuti belum dianggap sah. Akan tetapi ia sudah dianggap ikut berjamaah, dan akan memperoleh keutamaan shalat berjamaah.

d. Bagi makmum yang masbuk, jika masih harus menyempurnakan rakaatyang kurang, pada saatimam duduk tasyahud akhir, sebaiknya ia duduk iftirasy (duduk tasyahud awal) dan hanya membaca tasyahud awal.

e. Bagi makmum yang masbuk, jika pada saat ia tiba shaf (barisan) telah penuh, maka ia tidak boleh membuat barisan seorang diri. Dalam keadaan seperti itu ia harus memilih, masuk ke dalam barisan itu atau memberi isyarat kepada salah seorang yang ada dalam barisan itu untuk mundur. Orang yang diberi isyarat, pada saat makmum masbuk telah mulai membaca takbiratul ihram, harus mundur dengan langkah yang ringan dan tidak berturut-turut.

f. Bagi makmum yang masbuk, jika pada saat ia tiba imam sedang membaca surah, atau menurut perkiraannya sebentar lagi imam akan ruku, maka setelah niat dan takbiratul ihram, ia sebaiknya langsung membaca Al-fatihah tanpa membaca doa iftitah, karena membaca doa iftitah hukumnya sunah, sedangkan membaca Al-Fatihah rukun.

(Semoga Bermanfaat)

{ 1 komentar... read them below or add one }

  1. setiap ibadah tentu ada hukum/aturannya, begitu juga sholat, mohon disertakan dalilnya agar setiap perkataan yg di tulis bukan berasal dari hawa nafsu.

    BalasHapus

Welcome to My Blog

Translate

Stats

Site Info

- Copyright © Gudang Doa -City of Temayank- Powered by Islam - Managed by Ottonk Ramadhan -